Oleh Muhamad Rubiul Yatim *)
Setiap orang yang makan dan mengkonsumsi sesuatu tentu berharap agar perutnya yang lapar dapat kenyang. Terlebih setelah menahan tidak makan dan tidak minum sekitar 12 jam karena berpuasa, maka dapat mengisi perutnya yang kosong adalah keinginan terbesar dan dambaan semua orang.
Perut yang kenyang terisi akan berkorelasi langsung terhadap kesehatan dan proses penggemukan tubuhnya. Sebaliknya, perut yang selalu kosong tidak terisi akan berdampak pada potensi jatuh sakit dan kurusnya badan yang menopang dirinya.
Namun ternyata akan datang suatu masa ketika orang yang makan tidak lagi dapat mengenyangkan perutnya apalagi menggemukan badannya. Hal ini dikarenakan makanan yang dikonsumsinya ketika lapar itu tidak kunjung mampu mengendap di lambungnya untuk menghilangkan rasa laparnya yang teramat sangat.
Akibatnya tentu dapat dipastikan bahwa fisiknya akan selalu kurus kering tidak berdaya dan lambungnya selalu keroncongan. Badannya akan semakin habis tak ubahnya seperti peribahasa menyebutkan “tinggal kulit pembalut tulang.”
Peristiwa ini sebagaimana Allah Azza wa Jalla sampaikan di dalam Al-Quran, surat Al Ghasiyah ayat 6 dan 7, yang berbunyi:
لَّیۡسَ لَهُمۡ طَعَامٌ إِلَّا مِن ضَرِیعࣲ لَّا یُسۡمِنُ وَلَا یُغۡنِی مِن جُوعࣲ
Artinya: “Tidak ada makanan bagi mereka selain dari pohon yang berduri. Yang tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar.”
Di dalam ayat tersebut, Allah SWT menggambarkan keadaan para penghuni neraka dengan kondisi yang sangat menyedihkan dan menyengsarakan. Mereka diazab tanpa henti dengan berbagai jenis siksaan; yang salah satunya adalah dengan memakan buah berduri dari pohon yang berduri.
Buah berduri yang disebut dengan buah zaqqum itu, menjadi menu hidangan utama di segala waktu bagi para penghuni neraka. Ketika buah itu dimakan maka durinya yang tajam akan merobek dan menghancurkan organ pencernaan mulai dari mulut, kerongkongan, lambung, usus hingga sampai anusnya.
Laparnya yang akut menggigit ternyata tidak kunjung hilang setelah mengkonsumsi buah berduri itu. Oleh karena memang buah tersebut tidak pernah sampai ke lambung melainkan dalam kondisi sudah merontokkan dan menghancurkan semua yang dilaluinya.
Kondisinya seperti buah simalakama, yaitu tidak dimakan buah itu sementara perut sangatlah lapar, sementara ketika dimakan maka sakit yang tidak terperi pun akan dirasakan. Hal ini akan terus dialami dan memang merupakan bagian dari siksa yang diterimanya hingga waktu yang tidak ditentukan.
Pertanyaannya adalah mengapa seorang manusia kelak dapat mengalami siksaan yang sangat mengerikan dan memprihatinkan itu? Jawaban singkatnya adalah hal ini dapat terjadi lantaran berbagai perilaku dan perbuatan yang dilakukannya ketika ia masih hidup di dunia.
Apabila dianalisa dan direnungkan, maka setidaknya ada empat penyebab seseorang dapat diazab dengan memakan buah zaqqum yang berduri tersebut.
Penyebabnya itu adalah: (1) Tidak menyembah Tuhan yang benar yaitu Allah Azza wa Jalla, (2) Sering mengerjakan perbuatan dosa dan maksiat yaitu dengan melanggar perintah dan larangan agama, (3) Berlaku dan bertindak zalim terhadap sesama manusia yaitu melalui harta, kedudukan dan kekuasaan yang dimilikinya, dan (4) Terbiasa melakukan pengrusakan ekosistem yaitu terhadap hewan, tumbuhan dan lingkungan abiotik.
Empat perbuatan tersebut apabila dikerjakan secara terpisah satu-persatu saja sudah tentu akan mendatangkan murka Allah SWT. Apalagi jika dilakukan secara bersamaan, maka dapat dipastikan akan membawa pelakunya menerima azab yang dahsyat dan berat di neraka.
Saudaraku, lebih baik lapar sejenak di dunia ini karena tunduk dan takut kepada Allah SWT. Daripada kelak lapar selamanya di dalam neraka karena perbuatan yang dilarang agama dan dibenci oleh Allah Azza wa Jalla.
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang Maha Pemaaf. Engkau suka memaafkan, maka maafkanlah aku.”
اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَتِكَ وَالنَّارِ
Artinya: “Ya Allah, sungguh aku memohon ridha dan surga-Mu, dan kami berlindung dari murka-Mu dan siksa neraka.”
Ampunilah segala dosa dan khilaf kami ya Allah. Bimbinglah kami di dunia ini untuk selalu berada di jalanMu. Wafatkanlah kami dalam keadaan baik dan suci yaitu husnul khatimah.
Jakarta, 22 Agustus 2025
*) Dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Pancasila Jakarta dan Anggota Korps Mubaligh Khairu Ummah.
Komentar