Oleh Muhamad Rubiul Yatim *)
Hambar adalah suatu istilah yang menggambarkan keadaan tanpa rasa atau tawar. Dalam konteks jasmani, hambar mengacu pada makanan yang tidak ada rasanya di indra pengecap yaitu lidah. Adapun dalam konteks ruhani, hambar mengacu pada tidak adanya rasa dalam interaksi atau jalinan hubungan di dalam hati.
Lawan dari hambar adalah lezat. Lezat merupakan istilah yang menggambarkan keadaan nikmat yang tinggi dalam cita rasa. Baik itu cita rasa nikmat di lidah jika dalam konteks jasmani maupun cita rasa nikmat di hati dalam interaksi pada konteks ruhani.
Dalam beragama, tidak sedikit manusia yang memiliki kehambaran dalam berinteraksi dengan Tuhannya. Rasa hambar ini mendominasi hati dan jiwanya dalam beribadah kepada sang Maha Agung: Allah Azza wa Jalla.
Dari mana mengukur dan mendeteksinya? Tentunya dari interaksi atau jalinan hubungan yang tersambung antara yang diciptakan (makhluk) dengan yang menciptakan (Kholik).
Perilaku hanya sebatas membatalkan kewajiban adalah ciri utamanya. Cukup sekadar menggugurkan perintah agama karena khawatir tertimpa dosa merupakan buahnya. Konsekuensinya tentu tidak ada rasa nikmat dan kepuasaan di hati dalam melaksanakan berbagai jenis ibadah.
Shalat yang selalu dikerjakan terburu-buru tanpa tumaninah dan sering dilalaikan hingga akhir waktu. Merasa tidak betah berlama-lama dalam zikir ketika selesai menunaikannya. Apalagi harus pergi bersusah payah ke masjid di awal waktu sebelum mendengar azan adalah beban besar baginya.
Al-Quran jarang disentuh dan dibaca pada setiap harinya. Memperbaiki bacaan dan menghapal ayatnya sungguh perkara yang tidak ingin dilakukan. Apalagi kalau sampai diminta duduk berlama-lama untuk merenung dan mentadabburi isi kandungannya.
Berpuasa Senin – Kamis dan puasa sunnah lainnya amat berat dilakukan. Merasa tersiksa ketika menahan lapar dan dahaga selama 12 jam dari pagi hingga petang. Terlebih jika harus bangun sahur sebelum Subuh yang mengganggu nikmat tidurnya.
Dalam hal meninggalkan yang dilarang juga menjadi satu hal yang sulit untuk dikerjakan. Kesenangannya dalam menikmati perkara yang haram dan makruh telah menjadi bagian kehidupannya. Tiada penyesalan yang mendalam ketika bermaksiat dan melakukan dosa terhadap Tuhan yang memberinya hidup dan berbagai anugerah.
Baginya mengambil (makan) riba adalah satu hal yang wajar dan biasa saja. Terlebih di zaman global yang segala sesuatu terhubung dengan renten, maka sudah lumrah tidak perlu dipermasalahkan lagi dalam pandangannya. Apalagi hari ini bunga bank adalah satu instrumen yang harus ditolerir dan diterima tanpa syarat dalam segala transaksi ekonomi, demikian pembelaannya.
Berspekulasi (berjudi) dan menipu dalam kegiatan bisnisnya juga menjadi suatu hal yang lumrah dilakukan. Oleh karena bisnis itu adalah sesuatu yang kotor dan curang dalam perspektifnya. Hanya orang bodoh dan nabi saja yang berbisnis dengan cara jujur dan tanpa curang ujar hati kecilnya.
Mengambil (mencuri) dan menikmati harta yang bukan haknya juga menjadi cara utama dalam proses perolehan hartanya. Cara yang halal dan berkah hanya ada di cerita dongeng pengantar tidur dalam keyakinannya. Kekuasaan dan jabatan yang ada di pundak telah menjadi ajang korupsi dan kesewenang-wenangan dalam menyengsarakan orang-orang yang ada di bawah kendalinya.
Melacurkan diri dalam perzinaan juga menjadi hal yang wajar baginya. Terlebih ketika istri atau suami banyak menghindar, tidak mau dan tidak memahami akan kebutuhan seks libidonya. Melakukan hubungan badan dengan teman sekerja dan sejawat dalam jalinan hubungan tanpa status (HTS) atau teman tapi mesra (TTM) adalah di antara kesukaannya.
Itulah di antara beberapa tanda-tanda orang-orang yang hambar dalam beragama. Menjalani perintah agama cenderung hanya sebatas selayang pandang saja dan meninggalkan larangan ketika mulai terasa merugikan dan membawa dampak buruk buat diri dan keluarga.
Lalu bagaimanakah cara agar dapat menghadirkan dan merasakan lezatnya beragama. Menikmati seluruh aktivitas ibadah dan bentuk penyembahan serta ketaatan dengan sepenuh hati dan jiwa kepada sang Maha Agung yang Maha Perkasa: Allah Azza wa Jalla.
Resepnya ada dalam pernyataan manusia mulia yang paling mengenal Tuhannya dan menjadi utusanNya, yaitu Nabi Muhammad SAW. Beliau bersabda:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ، مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُـحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِـي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِـي النَّارِ.
Artinya: “Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya (lezatnya) iman, yaitu (1) barangsiapa yang Allâh dan Rasûl-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allâh. (3) Ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allâh menyelamatkannya sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam Neraka.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis mulia ini dapat diketahui ada tiga syarat kunci agar setiap manusia tidak hambar dalam beragama dan dapat merasakan manisnya iman. Apabila ketiga syarat itu hadir dan wujud dalam diri seseorang maka dapat dipastikan akan lahir rasa lezat dalam beragama.
Syarat pertama itu adalah mencintai Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan nyata di dunia ini di atas segala-galanya. Tidak boleh kecintaannya kepada makhluk seperti orang tua, pasangan hidup yang sah (suami atau istri), uang dan harta yang dimiliki, kendaraan di garasi, kekuasaan dan jabatan di dada, dunia dengan pernak-perniknya, dan lain sebagainya, melebihi kecintaannya terhadap Allah Azza wa Jalla dan utusanNya Nabi Muhammad SAW.
Hal ini sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla yang berbunyi:
{ وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن یَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادࣰا یُحِبُّونَهُمۡ كَحُبِّ ٱللَّهِۖ وَٱلَّذِینَ ءَامَنُوۤا۟ أَشَدُّ حُبࣰّا لِّلَّهِۗ وَلَوۡ یَرَى ٱلَّذِینَ ظَلَمُوۤا۟ إِذۡ یَرَوۡنَ ٱلۡعَذَابَ أَنَّ ٱلۡقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِیعࣰا وَأَنَّ ٱللَّهَ شَدِیدُ ٱلۡعَذَابِ }
Artinya: “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat,ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya hanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azab-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS Al-Baqarah: 165).
Pada ayat lainnya, Allah SWT juga berfirman:
{ قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِی یُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَیَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورࣱ رَّحِیمࣱ }
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosa kamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Āli-ʿImrān: 31).
Bahkan dengan gamblang Allah SWT berfirman:
{ قُلۡ إِن كَانَ ءَابَاۤؤُكُمۡ وَأَبۡنَاۤؤُكُمۡ وَإِخۡوَ ٰنُكُمۡ وَأَزۡوَ ٰجُكُمۡ وَعَشِیرَتُكُمۡ وَأَمۡوَ ٰلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَـٰرَةࣱ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَـٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَاۤ أَحَبَّ إِلَیۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادࣲ فِی سَبِیلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ یَأۡتِیَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦۗ وَٱللَّهُ لَا یَهۡدِی ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَـٰسِقِینَ }
Artinya: “Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS At-Tawbah: 24)
Dari tiga ayat Al-Quran di atas dapat dipahami bahwa menjadikan Allah Azza wa Jalla sebagai pusat kecintaan dan pusat tujuan hidup adalah hal mutlak yang harus diwujudkan untuk mendapatkan lezat dan manisnya iman. Hal ini dikarenakan Allah SWT adalah Zat yang telah menciptakan, menghidupkan, memberi rezeki dan anugerah yang sangat banyak hingga manusia tidak untuk menghitung jumlahnya. Zat yang Maha Agung yang dengan kasih sayang-Nya selalu membimbing dan memberi petunjuk agar manusia bisa selamat dan sukses hidup di dunia dan di akhirat.
Keberadaan dan eksistensi Allah SWT menjadi penyebab utama lahirnya kehidupan dan kebahagiaan manusia di dunia. Tanpa diri-Nya maka dapat dipastikan bahwa manusia itu tidak akan pernah ada dan tidak akan pernah muncul dalam ranah kehidupan di alam semesta, bahkan disebut pun tidak sama sekali.
Di samping itu, Nabi Muhammad SAW sebagai sosok utusan-Nya memiliki peran sentral bagi manusia sebagai contoh dan model nyata dalam implementasi hidup di jalan Tuhan. Kehadirannya memberikan jalan terang dalam penghambaan dan ketundukkan sesuai dengan yang diinginkan Allah Azza wa Jalla; bukan asal sekedar mengikuti praduga dan hawa nafsu karangan manusia.
Nabi Muhammad SAW hadir untuk mengisi kekosongan model teladan dan memberi ruang yang luas dan lapang atas jalan keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia. Kesemua jalan yang telah ditempuh oleh Nabi Muhammad SAW dalam segala bentuk, aspek dan sisinya secara utuh dan menyeluruh telah diotorisasi oleh jalur langit tanpa terkecuali.
Allah SWT berfirman:
{ لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِی رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةࣱ لِّمَن كَانَ یَرۡجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلۡیَوۡمَ ٱلۡـَٔاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِیرࣰا }
Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS Al-Aḥzāb: 21)
Selanjutnya syarat kedua adalah mencintai segala macam makhluk; yang utamanya adalah sesama manusia, dalam bingkai dan kerangka semata-mata mencintai Allah SWT. Kondisi motivasi yang terukur dan jelas ini tentu akan menghadirkan aura pergaulan dan pertemanan yang penuh kebaikan dan manfaat. Selain juga tentunya akan membawa pada keselamatan dan keberkahan di dunia dan akhirat.
Bergaul dan bersahabat yang dilandasi dengan kecintaan kepada Allah SWT tentu akan membuat lingkaran (cyrcle) pertemanannya akan sesuai dengan isi kandungan Al-Quran dan Hadis nabi. Hal-hal yang terlarang dan mengarah pada keburukan akan secara otomatis menyingkir dan pergi menjauh karena tidak ada ruang gerak di dalamnya. Hubungan yang terjalin akan jauh dari ingar bingar duniawi yang penuh dengan tipu muslihat, intrik dan agenda tersembunyi.
Nuansa persaudaraan yang dibangun adalah saling menasehati dan mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaran agar tidak menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan. Menjadikan puncak harapannya yaitu akan kembali bertemu dan bercengkerama kembali dengan penuh mesra di dalam surga seperti dahulu ketika hidup di dunia.
Jenis pertemanan dan persaudaraan yang begitu unik dan langka ini tidak akan pernah ditemukan dan didapati kecuali bagi orang-orang yang mengerti dan paham akan indahnya cinta sejati kepada sang pemilik Cinta; Allah Azza wa Jalla. Balutan cinta dan kasih sayang yang terpancar keluar hingga melimpah ruah ke segala penjuru tanpa dapat dikendalikan karena memang mengambil teladannya dari sumbernya langsung sang Maestro Cinta; Allah SWT.
Itulah rahasia mengapa Nabi Muhammad SAW melantunkan satu doa cinta yang sangat indah dalam relung-relung permintaannya, yang berbunyi:
اللَّهُمَّإِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَالْعَمَلَ الَّذِيْ يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ اللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أََحَبَّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِيْ وَأَهْلِيْ وَمِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِرواه الترمذي
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu cinta-Mu dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu dan aku memohon kepada-Mu perbuatan yang dapat mengantarku kepada cinta-Mu. Ya Allah, jadikanlah cinta-Mu lebih kucintai daripada diriku, keluargaku, dan air yang dingin (di padang yang tandus).” (HR Tirmidzi)
Hal ini diperkuat lagi dengan adanya informasi dari Nabi Muhammad SAW tentang 7 golongan manusia yang akan mendapat naungan dari Allah Azza wa Jalla di padang mahsyar kelak, yang salah satunya adalah orang yang bergaul dan berteman serta berjumpa di dunia semata-mata hanya karena cinta terhadap Allah SWT, bukan karena motivasi dunia dan lainnya.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Adapun syarat terakhir atau ketiga agar dapat merasakan lezatnya beragama yaitu orang yang selalu berikhtiar untuk selalu lari sejauh-jauhnya dari perbuatan kemunkaran, dosa dan maksiat. Baginya melakukan berbagai perbuatan negatif di mata agama itu sama saja dengan mendatangi secara sukarela ke dalam jilatan api neraka yang membara dengan panas yang tiada tara.
Dirinya tidak akan pernah mau menukar anugerah nikmat hidup penuh hidayah dalam naungan cinta sejati kepada pemilik alam semesta dengan nikmat semu dunia yang fatamorgana. Dirinya akan bekerja keras untuk menutup ruang dan celah dari melakukan perbuatan nista yang dibuat dan dihias indah oleh penipu ulung setan terkutuk beserta anteknya. Oleh karena kenikmatan yang direngkuh hanya sesaat namun kerugian yang diterima akan kekal abadi selamanya.
Bahkan dampak paling mengenaskan yang diterima akibat memalingkan diri dari jalan kebenaran dan keselamatan adalah dirinya akan diganti dan dihilangkan dari perbendaharaan orang-orang yang akan dicintai oleh Allah SWT. Dirinya dibuang dan tempatnya digantikan oleh orang lain yang jiwa dan hatinya betul-betul tulus hidup di jalan Allah SWT dengan penuh cinta dan harap kepada-Nya.
Perhatikan dengan seksama firman Allah Azza wa Jalla berikut ini:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Maidah: 54)
Sungguh seseorang akan merasakan lezatnya beragama ketika seluruh frekuensi dalam dirinya luar dan dalam hanya tersambung dan terkoneksi dengan sang pencipta dirinya yaitu Allah SWT. Sebagaimana halnya orang yang tawaf dan menjadikan pusat putaran kelilingnya adalah kakbah, maka pusat seluruh putaran aktivitas orang beriman selama 24 jam hanya dipersembahkan untuk Allah Azza wa Jalla.
Semoga hari-hari ke depan seluruh relung aktivitas hidup kita dipenuhi oleh kebahagiaan dan kenikmatan dalam beragama. Terasa lezat dan penuh cita rasa nikmat baik dalam suka maupun duka dikarenakan keyakinan semua datang dari Sang Maha Cinta: Robbul Izzati, Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Jakarta, 13 Juli 2025
*) Dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Pancasila Jakarta dan Anggota Korps Mubaligh Khairu Ummah.
Komentar
Terima kasih atas pencerahannya Bapak. Sangat bermanfaat.🙏🙏
Alhamdulillah, semoga menjadi amal saleh untuk kita bersama
Terima kasih atas pencerahannya Bapak. Sangat bermanfaat.🙏🙏