Korea Utara menggelar para militer besar-besaran di Pyongyang pada 15 April 2025 yang meningkatkan ketegangan dengan Amerika Serikat. (Foto: BBC).
JRMEDIA.ID — Korea Utara (Korut) merupakan ancaman bagi stabilitas regional dan global karena pengembangan program senjata nuklir dan rudal balistiknya, yang mengabaikan sanksi internasional.
Negara ini juga secara rutin melakukan tindakan provokatif, seperti peluncuran rudal dan ancaman penggunaan senjata nuklir. Selain itu, Korut juga menuduh negara lain, seperti Korea Selatan, melakukan provokasi terhadapnya, menciptakan ketegangan dan meningkatkan risiko konflik.
Banyak yang bertanya tanya bisakah rezim yang kokoh serta beton ini runtuh di kemudian hari? apakah keruntuhan rezim akan membawa kesejahteraan atau malah malapetaka?
Bayangkan sebuah pagi di Pyongyang. Bukan parade militer, bukan pula pidato Kim Jong Un yang bergema melalui pengeras suara, melainkan suara jeritan massa yang lapar, mengamuk, dan menyerang apa pun yang berdiri di hadapan mereka.
Inilah skenario hipotetis ketika 90 persen rakyat Korea Utara, didorong oleh kelaparan ekstrem, serentak bangkit melawan rezim Kim dan menciptakan gelombang anarki yang tak terkendali.
Runtuhnya Rezim dalam Hitungan Hari Dalam sejarah dunia, pemerintahan otoriter sering runtuh ketika rakyat sudah mencapai titik jenuh: dari Rumania di bawah Nicolae Ceaușescu hingga revolusi Arab Spring.
Namun Korea Utara punya ciri khas yang berbeda: kultus individu yang sangat kuat dan sistem kontrol totaliter yang sudah mengakar selama tiga generasi.
Jika 90 persen rakyat secara serentak melakukan perlawanan, pasukan keamanan negara – termasuk Korean People’s Army – bisa langsung lumpuh.
Pasukan elite mungkin mencoba melawan, tetapi gelombang massa yang lapar, marah, dan nekat akan sulit dibendung.
Pyongyang bisa jatuh hanya dalam beberapa hari. Namun runtuhnya rezim tidak otomatis melahirkan demokrasi atau pemerintahan transisi yang stabil.
Dalam skenario ini, rakyat Korea Utara tidak membentuk pemerintahan baru. Mereka justru bergerak dalam anarki, menyerang fasilitas negara, merusak infrastruktur, bahkan menolak setiap bentuk otoritas baru.
Alih-alih menyambut pasukan asing sebagai penyelamat, massa justru memandang mereka sebagai ancaman. Baik pasukan Amerika Serikat, Korea Selatan, maupun Cina, semua dianggap musuh yang ingin “menjajah”.
Maka setiap upaya intervensi militer justru memicu perlawanan sengit dari rakyat yang kini bersatu dalam kekacauan.
Korea Utara pun bertransformasi menjadi zona anarkis terbesar di dunia. Tidak ada pemerintah pusat, tidak ada hukum, hanya kelompok-kelompok rakyat yang menguasai wilayah masing-masing.
Kota-kota besar menjadi puing-puing, jalur komunikasi runtuh, dan perdagangan internasional berhenti total.Yang muncul adalah milisi rakyat spontan: kelompok-kelompok bersenjata yang lahir dari kekacauan, menguasai distrik tertentu, dan menolak otoritas asing.
Dalam beberapa hal, situasi ini bisa menyerupai Somalia pada 1990-an, tetapi dalam skala lebih besar dan lebih berbahaya, karena Korea Utara adalah negara bersenjata nuklir.
Salah satu pertanyaan terbesar dalam skenario ini adalah: siapa yang menguasai senjata nuklir Korea Utara?Jika fasilitas nuklir jatuh ke tangan massa anarkis atau kelompok milisi, dunia akan menghadapi ancaman yang jauh lebih menakutkan dibandingkan rezim Kim. Senjata nuklir bisa digunakan sebagai alat tawar-menawar, ancaman, atau bahkan diledakkan tanpa kendali.
Dunia: terjebak dalam Dilema, Amerika Serikat mungkin mencoba intervensi cepat untuk mengamankan situs nuklir. Cina akan berusaha mencegah masuknya gelombang pengungsi ke perbatasan. Korea Selatan terpecah antara keinginan reunifikasi dan ketakutan menghadapi kekacauan anarkis.
Namun semua upaya intervensi menghadapi perlawanan rakyat Korea Utara yang kini melihat setiap pihak asing sebagai “penjajah”. Situasi pun bisa berkembang menjadi perang saudara skala penuh, dengan intervensi asing di dalamnya.
Dari Kediktatoran ke Kekacauan Skenario ini menunjukkan bahwa runtuhnya rezim Kim tidak otomatis membawa harapan. Tanpa transisi yang terorganisir, Korea Utara bisa berubah dari negara paling totaliter di dunia menjadi negara paling anarkis di dunia.
Dunia yang selama ini cemas akan provokasi nuklir rezim Kim, mungkin justru menghadapi ancaman lebih besar: senjata nuklir di tangan massa tanpa kendali. Dalam kondisi seperti ini, tantangan global bukan hanya menjatuhkan diktator, tetapi juga membangun kembali sebuah bangsa dari reruntuhan.
(dmr)
Komentar